Masih ingat dalam pekat
Setetes Mutiara Mengalir dari matamu
Saat burung terbang dari sangkar
dan
Boneka kecil yang kau rajut merenda asa
Bunda,
Pelukmu yang mampu hangatkan jiwa
Katamu pelipur lara
Air mata yang kering dibalik bantal
Aku kemas hanya untukmu
Rindu ini kusimpan rapat
Karena takut hilang dalam ombak samudra
Sekeranjang parsel telah aku kirim lewat jasa terpercaya
Tak lama lagi mungkin akan tiba
Air mata dan rindu
Telah ku bungkus dengan kasih
beserta pita yang dulu sering kau gelangkan ditanganku
Aku harap kau bahagia saat membukanya
tak ada yang sempurna di dunia ini.. kita manusia selalu mencari kesempurnaan itu.. melalui ketidak sempurnaan itu aku berusaha menjadi orang yang bisa menjadikan ketidak sempurnaan itu tidak ada
Senin, 30 Juli 2012
Minggu, 29 Juli 2012
Air Mata Hari
Indonesia raya,
merdeka, merdeka, hiduplah Indonesia raya…
Secarik kain
berwarna darah dan tulang melambai lusuh diujung rapuh tiang bambu. Sudah
berpuluh tahun lamanya pusaka kebanggaan kami itu tak pernah digantikan.
Kepakannya lunglai menggambarkan usia. Dengan segenap rasa bangga, tangan-tangan
mungil ini memberi hormat. Tak ada perlengkapan upacara pada umumnya. Tak ada
topi ataupun dasi menghiasai seragam kumal yang melekat di badan ini. Jari kaki
penuh kudis bemain dengan kubangan air lumpur mengikuti hentakan lagu
kebangsaan yang sengaja diciptakan untuk meninabobokkan. Dan saat terjaga bumi
telah hilang setengah mengembun dalam mega.
Sejauh mata
memandang. Terlihat hanyalah sapaan Bukit Barisan seperti buntut sapi yang
penuh koreng karena telah mengering. Anak sungai membelai hutan. Hijau hanya mampu
mengalunkan simponi gelap tawa. Bermimpi aku akan sebuah istana ditengah
hijaunya hutan rimba. Gubuk yang hampir rubuh di pucuk bukit ini adalah surga
kami. Dimana peri dan pelangi dilipat dalam lembaran pusaka rombeng yang sudah
lelah bercerita.
Wahai bapaknya
sumber ilmu pengetahuan. Engkau yang duduk di kursi penentu kebijakan. Aku
ingin terus menyaksikan butiran air hujan yang jatuh karena embun telah tiada. Merentas
zaman membelah dunia mencabik-cabik berkas cakrawala. Tangis ini sudah kering
berkeluh kesah. Sejarah bumi renta akan tersimpan dalam kantung baju yang robek
sebelah. Dalam nurani tersimpan asa menggapai matahari. Tolong, jangan kau
padamkan pelita ini
Lasmini
Sinar sepotong bulan dan gemintang mulai
menyinari
Polesan tebal bedak dan gincu merah
menghiasi pucat wajahku
Hidup ini begitu berat bagiku teman
Terlahir dalam kubangan payau
Apa aku masih punya hak untuk tersenyum?
Menantang dinginnya malam yang membelai
belahan pahaku
Gelapnya badai terus menghujam tubuh
Guruku adalah persimpangan jalan
Kenal aku,
Lorong-lorong dan kembang yang tertanam
disetiap sudut jalan
Aku pun tertawa
Tawaku memecah hitamnya butiran hujan
Hidup ini telah merajamku teman
Aku lelah
Aku menangis
Semua kalah dengan selipan
lembaran-lembaran rupiah di behaku
Apa aku kalah pada kehidupan?
Saat semua orang berjalan, aku tidak
diberi kekuatan
Apa aku harus pasrah?
Inilah jalanku
Lasmini seorang kembang jalanan
BIRU
kala sang malam mendekapkuku dalam sepi
Saat pertama kali ku baca sajakmu
Aku mengerti dengan pasti
Kau masih di situ
Meniti buih-buih kehidupan
Melangkah gontai dan galau
dalam merangka asa dan rasa
antara liku-liku dan rekahan cinta
Kawan tahukah engkau
Di antara ribuan sahabatmu
mungkin...
Akulah yang mengerti
Setiap untaian kata dari lirik-lirik biru puisimu
yang terpahat lekat di antara luka-luka dan pedihnya cinta
Saat pertama kali ku baca sajakmu
Aku mengerti dengan pasti
Kau masih di situ
Meniti buih-buih kehidupan
Melangkah gontai dan galau
dalam merangka asa dan rasa
antara liku-liku dan rekahan cinta
Kawan tahukah engkau
Di antara ribuan sahabatmu
mungkin...
Akulah yang mengerti
Setiap untaian kata dari lirik-lirik biru puisimu
yang terpahat lekat di antara luka-luka dan pedihnya cinta
Minggu, 20 Juni 2010
PUISI

Gradasi Cinta
Abdullah Chepa Al-Harits
Dia mencari sebuah nada cinta.
Dalam balutan kapas putih.
Warna kuning hijau merah jingga pelangi.
Gemericik air.
Dan tabuhan beduk yang saling bertautan.
Rona mega tak jelas lagi tampaknya.
Kabut abu-abu hitam datang silih berganti.
Dia ragu akan cinta-Nya.
Pekat dalam ingatan.
Siang itu, jalan terjal dan berbatu menjadi jamuan.
Sepucuk kasih yang Dia titipkan.
Samar-samar tampaknya.
Luput dalam pandang.
Secercah kebahagiaan tak pernah sirna.
Langganan:
Postingan (Atom)