Kamis, 13 Maret 2014

Kelana

Aku adalah bara api
Mampu melahap dan meluluhlantakan arang menjadi debu
Bagiku, cinta adalah hanya cerita khayalan saja
Debu pun akan hilang dihebus angin
Begitu pula sebuah angan yang kau sebut namanya cinta

Aku berkelana
Menelusuri jejak yang mungkin terhapus badai
Merentas zaman untuk sebuah asa
Kadang air membelai mata
Kadang luka merobek hati
Hanya mampu diam

Namun kali ini aku terjatuh
Aku bersimpuh
Aku mengaku kalah
Aku tak berdaya
Aku terpuruk pada satu hati
Kamu

Freitag, März 14, 2014
16.629 km von meinem Herzen

Rabu, 05 Maret 2014

Balada Rindu Mendera

Saat siang dihari kamis
Aku masih saja termenung di meja kerja
Suara kicauan burung dan jangkrik dari rumah sebelah terdengar begitu nyata
Simfoni awan dan matahari begitu cerah terlihat dari jendela kaca
Burung-burung kecil terbang beriringan menapaki hari
Hari yang tak kunjung datang membuatku semakin merindu
Rasa sepi yang menggalau menyiksa batin setengah hampa
Wahai mentari yang enggan bersuara
Ceritakan pada dia bahwa aku telah lelah
Ceritakan pada dirinya rinduku memendam kesah
Sampaikan bahwa siangku begitu nestapa
Menanti dirinya

Rabu, 26 Februari 2014

Aku Padamu

Aku padamu, seperti daun yang gugur diterpa angin
Tak pernah tau kapan ranting kecil itu rapuh dan berhembus tanpa perpisahan
Aku padamu, seperti matahari yang diselimuti awan
Malu-malu tapi membuatku semakin berguncang
Aku padamu, seperti air yang tak pernah tau ingin pergi kemana
Hanya mengalir, membentur batu, walau tak tau laut mana yang akan menjadi muara
Aku padamu, seperti ikan yang rindu air untuk berenang
Gelisah, meski hujan yang tak kunjung menyapa

Engkau tak pernah tau
Saat hati merindu
Daun  yang gugur tak jua mampu menghilangkan rasa ingin bertemu
Saat hati perih
tak satupun rumah mampu meneduhkan raga
Saat hari risau
Gemericik air tak mampu mengusir kegelisahan

Aku padamu
Daun yang gugur dan ikan yang kepanasan menuju lautan luas
Selalu berharap

Senin, 20 Januari 2014

Bayangan dirimu dalam hujan

Hari ini hujan turun lagi
Butir airnya mengingatkanku akan air mata yang menetes di pundakku
Dinginnya hari membuatku merasakan hangat tubuhmu
Kau adalah manusia pertama yang mampu bertahan dalam badai
Kau adalah anugerah yang tercipta tak sengaja
Mampu mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwaku
Membuatku kuat bertahan dalam perihnya luka
Menguatkanku saat aku lemah
Membawaku terbang saat sayapku mulai rapuh
Selalu kulihat bayanganmu dalam hujan
Namun aku yakin kau nyata




Jumat, 03 Januari 2014

PUTRI (Permata yang Hilang)

Dia terkulai lesu
Setelah pergulatan yang panjang
Perdebatan yang menguras otot dan semua tenaga
Separuh pakaian yang dikenakan telah rombeng
Tangan kekar yang tak tahu dari mana datangnya kuat mencengkram

Gelas kaca yang berisi anggur merah itu masih berbekas kecupan gincun merah
Nanar dalam pandangan menyimpan dendam
Namun tenaga telah habis diterjang badai
Hanya sanggup mengelurkan permata penyesalan
Basah, limbung bercampur dalam satu jiwa

Bau penyesalan dan kegagahan menyatu berpadu
Nafas tinggal satu-satu, menikam nurani
Namun tak seorang pun membalas dengan kasih
Mereka semakin beringas dan menggebu
Dia pasrah, kalah tenaga

Semua ini telah direncanakan dengan matang
Berikut dengan naskah dan dialog
Tak sanggup lagi dia berangan
Kepalanya limbung
Gelap bersama Mimpi indahnya