Rabu, 26 Februari 2014

Aku Padamu

Aku padamu, seperti daun yang gugur diterpa angin
Tak pernah tau kapan ranting kecil itu rapuh dan berhembus tanpa perpisahan
Aku padamu, seperti matahari yang diselimuti awan
Malu-malu tapi membuatku semakin berguncang
Aku padamu, seperti air yang tak pernah tau ingin pergi kemana
Hanya mengalir, membentur batu, walau tak tau laut mana yang akan menjadi muara
Aku padamu, seperti ikan yang rindu air untuk berenang
Gelisah, meski hujan yang tak kunjung menyapa

Engkau tak pernah tau
Saat hati merindu
Daun  yang gugur tak jua mampu menghilangkan rasa ingin bertemu
Saat hati perih
tak satupun rumah mampu meneduhkan raga
Saat hari risau
Gemericik air tak mampu mengusir kegelisahan

Aku padamu
Daun yang gugur dan ikan yang kepanasan menuju lautan luas
Selalu berharap

Senin, 20 Januari 2014

Bayangan dirimu dalam hujan

Hari ini hujan turun lagi
Butir airnya mengingatkanku akan air mata yang menetes di pundakku
Dinginnya hari membuatku merasakan hangat tubuhmu
Kau adalah manusia pertama yang mampu bertahan dalam badai
Kau adalah anugerah yang tercipta tak sengaja
Mampu mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwaku
Membuatku kuat bertahan dalam perihnya luka
Menguatkanku saat aku lemah
Membawaku terbang saat sayapku mulai rapuh
Selalu kulihat bayanganmu dalam hujan
Namun aku yakin kau nyata




Jumat, 03 Januari 2014

PUTRI (Permata yang Hilang)

Dia terkulai lesu
Setelah pergulatan yang panjang
Perdebatan yang menguras otot dan semua tenaga
Separuh pakaian yang dikenakan telah rombeng
Tangan kekar yang tak tahu dari mana datangnya kuat mencengkram

Gelas kaca yang berisi anggur merah itu masih berbekas kecupan gincun merah
Nanar dalam pandangan menyimpan dendam
Namun tenaga telah habis diterjang badai
Hanya sanggup mengelurkan permata penyesalan
Basah, limbung bercampur dalam satu jiwa

Bau penyesalan dan kegagahan menyatu berpadu
Nafas tinggal satu-satu, menikam nurani
Namun tak seorang pun membalas dengan kasih
Mereka semakin beringas dan menggebu
Dia pasrah, kalah tenaga

Semua ini telah direncanakan dengan matang
Berikut dengan naskah dan dialog
Tak sanggup lagi dia berangan
Kepalanya limbung
Gelap bersama Mimpi indahnya

Senin, 23 Desember 2013

Hujan, Banjir, Aku dan Ibuku

Hari ini hujan lagi
Sama seperti beberapa hari belakangan
Udara dingin selalu mendekap tidurku
Dalam perisai kalbu yang sebenarnya mulai rapuh
Tetap aku tegarkan untuk selalu berdiri

Menggapai jaket tebal dan selimut pemberianmu
Wanginya masih sama, tak pernah berubah
Walau sekarang aku tahu, rambutmu tak sehitam dulu
Dulu aku berlari ke dalam pelukmu ketika kudengan gemuruh
Hangat tubuhmu membuatku teduh
Namun aku tahu, badanmu tak sekokoh dulu

Aku benci hujan yang datang terlalu berpadu
Karena saat itu, kita harus siapkan diri agar genangannya cepat berlalu
Aku benci jika hujan itu membawa banjir dalam rumah kita
Karena saat itu, kita harus siap merasakan dinginnya hari yang menggenangi kaki
Aku benci jika banjir tiba
Karena saat itu, aku lihat engkau terlalu lelah untuk membersihkan rumah kita

Apakah di sana hujan seperti di sini, Ibu?
Aku khawatir kakimu tidak lagi hangat untuk manahan genangan air
Aku khawatir badanmu terlalu rentah untuk bersih-bersih rumah

Ini adalah sepenggal cerita kita
Antara hujan, banjir, aku dan dirimu Ibu


Denpasar, Penghujung tahun 2013
saat musim hujan






Jumat, 15 November 2013

AKU, KAMU DAN HUJAN

Aku berlabuh di dermaga pulau kecil ini
Kulangkahkan kaki hanya untuk sebuah asa
Terik matahari selalu memberikan bayangan akan masa lalu
 Namun aku selalu pandang kedepan

Kamu adalah berkas cahaya yang menyayat hatiku
Mengukir polos pada jantungku
Matahari yang senantiasa memberikan cahaya putih
Sejuk yang menyirami dengan embun

Detik jam terus memburuku
Aku tak pernah berhitung satu satu
Namun keputusan sudah dijatuhkan
Sisa waktu tak lama lagi

Duduk di bawah siraman sinar senja
Kau disampingku
Menatap mentari yang semakin ditelan samudera
Genggam tanganku basah

Titik hujan jatuh satu per satu
Kita tetap bertahan
Duduk hingga mega usai
Aku memelukmu

Aku harus pergi
Kapal yang sedari tadi menunggu telah bersiap angkat jangkar
 Aku akan pergi
Merentas jalan yang telah aku goreskan

Ini adalah hujan pertama yang kita rasakan bersama
Cerita semusim
Antara aku, kamu dan hujan